Anggota

Rabu, 22 September 2010

Mengapa Cinta Harus Datang?

Judul : Air Mata Cinta

Pengarang : Achmad Mufid A.R.

Penerbit : Ar-Ruzz media Yogyakarta

Tebal : 184 halaman

Cetakan : I Juni 2004

Secara dominan, banyak novel remaja yang menceritakan mengenai kisah percintaan antara sepasang kekasih. Hubungan pria dan wanita memang sangat menarik untuk dibahas. Terlebih jika kisah percintaan tersebut memiliki konflik yang saling berhubungan satu sama lain. Maksudnya, dari satu konflik menuju ke konflik lain masih memiliki benang merah. Akan tetapi, sangat jarang ada novel remaja yang menyinggung percintaan tetapi juga menyinggung mengenai Tuhan.

Seperti pada novel ‘Air Mata Cinta’ ini. Novel ini menceritakan tentang kisah percintaan seorang pria yang bernama Nauval Rafiq. Nauval adalah seorang pemuda yang sangat haus dan merindukan cinta. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seorang gadis yang berhasil merebut hatinya. Gadis itu bernama Maya Elisa. Nauval memasrahkan sepenuhnya hidup dan perasaannya kepada Tuhan. Termasuk mengenai perasaannya terhadap Elisa. Selain sering berbincang-bincang dengan Tuhan, Nauval juga sering menceritakan setiap apa yang ia alami kepada ibunya, Rabiah Salim. Nauval terjebak di dalam perasaan cintanya.

Tiba-tiba masalah pun datang. Elisa harus pergi ke suatu tempat yang jauh dan berpisah dari Nauval. Elisa dan Nauval sering berkirim-kiriman surat. Salah satu dari surat itu berisi sajak-sajak cinta yang sangat indah. Di dalam sajak itu Elisa berusaha menjelaskan kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Apabila mereka berjodoh, maka dipisah seperti apapun juga mereka pasti akan bersama. Biarlah Tuhan yang akan menunjukkan cinta-Nya. Nauval pun membalasnya dengan sajak-sajak yang berisi ungkapan hati dan kegundahannya. Nauval menjelaskan kepada Elisa bahwa di setiap nafas dan langkahnya nama dan wajah Elisa akan selalu ada. Dia percaya bahwa Tuhan akan memberikannya jalan yang terbaik. Tapi selamanya dia akan merindukan Elisa. Dan sejak saat itu mereka sudah tidak pernah berkiriman surat lagi.

Namun, pada suatu hari mereka dipertemukan kembali di sebuah makam. Elisa datang dengan membawa sebuah kenyataan yang menyedihkan. Ibunya menikah lagi dengan Syamis Al-Syamiri. Elisa sering kali memaki ayah tirinya itu. Dia sangat membencinya karena dia merasa bahwa Syamis telah merebut cinta ibu dari ayahnya. Elisa pun lari dari rumah. Ibunya menjadi sangat cemas dan mencarinya. Muna Syarif menjelaskan kepada Elisa bahwa tidak ada yang dapat memaksakan cinta. Hanya Tuhalah yang tahu akan teka-teki dan lika-likunya cinta.

Di dalam novel ini sangat terlihat ketergantungan para tokohnya terhadap Tuhan. Dalam setiap apa yang mereka lakukan dan katakan pasti akan mereka ceritakan kepada-Nya. Novel ini mengingatkan kita bahwa di dalam hidup ini kita harus selalu ingat dan bergantung kepada Sang Pencipta. Kisahnya pun tidak terlalu monoton seperti halnya kisah percintaan lainnya yang selalu mengulang-ulang kisah yang sama.

Lika-liku dan kerumitan kisah membuat peresensi menjadi sulit untuk memahami isi dan maksud dari cerita. Penggunaan bahasanya pun sangat tinggi sehingga peresensi sulit untuk memahami maksudnya. Di dalam cerita ini, banyak menggunakan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan. Setiap kalimatnya memiliki makna sendiri-sendiri seperti ‘Persahabatan itu kebersamaan dengan makhluk Tuhan.’. Makna dari kalimat itu sangatlah dalam. Di dalam cerita ini pun terdapat sajak-sajak dan puisi-puisi yang indah.

Buku ini tidak cocok untuk dibaca oleh para remaja. Walaupun berisikan kisah cinta, akan tetapi bahasanya sangat tinggi, sehingga menyebabkan para remaja akan merasa bosan karena merasa kesulitan untuk memahami. Buku ini akan lebih cocok jika dibaca oleh para sastrawan muda karena akan menambah perbendaharaan kata dalam mereka berkarya. Terlebih di dalam buku ini terdapat sajak dan puisi.

Pascha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika kamu ingin mengkritik ato memberi saran ato apalah suka-suka kamu aja de... kamu bisa ngasih aku komentar asal jangan yang aneh-aneh yauw. hahahaha