Dua detik terucap kata dari bibirmu
Tiga detik terpancar kasih dari lakumu
Empat detik terjalin persahabatan dari hatimu
Waktu terus bergulir
Jarak selalu menanti
Namun, kasihmu terus mengalir
Terkenang selalu dalam hati
Kacau!!!
Dunia ini serba kacau
Tak ada lagi keadilan dalam hidup
Semua bertopeng
Topeng yang sangat indah
Membuat semua terkesima
Namun hasilnya...,
Kacau!!!
Diri ini sungguh kacau
Tertipu oleh senyuman dunia
Yang selalu mengisyaratkan kemunafikan
Menenggelamkan asa dan kemunafikan
Aaaaaaaaaaargh!!!
Persetan dengan semua ini
Membuatku menjadi gila dan serba tak jelas
Kekacauan ini telah menyamarkan duniaku
Menyamarkan diriku
Menyamarkan asa dan impianku
Karena kaulah samar, yang menyamarkan semuanya
Created By : Paschalis Serty C. W.
Universitas Sanata Dharma
Sebuah gambar di dinding
Membawa Terbang jauh segala cerita di masa itu
Membuat seluruh tubuhku bergetar
Mengingat setiap detik yang tergambarkan
Aku pun duduk tersungkur di pojok dan menangis
Sebuah gambar di dinding
Membawa terbang jauh setiap lembar cerita hatiku
Menyayat dan membuka setiap cerita yang terukir
Mengambangkan setiap rasa yang ada
Sebuah gambar di dinding
Membuat aku ingin kembali ke setiap detik yang telah kulalui
Memutar film lama yang tersimpan erat di hati dan pikiranku
Merasakan kembali detik-detik yang begitu indah
Namun kutahu,
Sebuah gambar di dinding
Tak kan pernah dapat terlukiskan kembali
Selamanya hanya akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan
Selamanya...
Sebuah gambar di dinding
Akan tetap menjadi sebuah gambar yang terlukiskan di
Created By : Paschalis Serty Canny Widarsi
Dapatkah aku keluar dari kegelapan?
Dapatkah aku terbebas dari kefanaan?
Dapatkah aku berjuang melawan hidup?
Kau tahu jawabannya
Kau tahu caranya
Karena kau yang membantuku
Kau yang beriku terang
Kau yang beriku keabadian
Kau yang beriku kekuatan
Melalui perkataanmu, aku menjadi kuat
Melalui perkataanmu, aku menjadi yakin
Melalui perkataanmu, aku mendapatkan kepastian
Terima kasih
Untuk semua yang telah kau berikan
Tuhan…..
Created By : Paschalis Serty C. W.
Majalah MARSUDIRINI
Ku ingin berada di suatu tempat
Tempat yang dapat membantuku
Menggapai seluruh impianku
Aku ingin tempat itu
Penuh dengan keceriaan,
Kehangatan, dan keharmonisan
Tanpa memandang status,
Umur, dan kelemahan,
Ku ingin kita tetap bersatu
Aku ingin kita maju bersama
Mambenahi segala kekurangan dan kelemahan kita
Menjadikannya aset bagi hidup ini
Tempat itu sangat berarti bagiku
Karena disanalah
Karena disanalah tempatku memperoleh segalanya
Tak ingin aku melihat tempat itu hancur
Oleh karena kenakalan kita
Tak ingin aku melihat tempat itu rusak
Oleh karena hal-hal yang tidak bertanggungjawab
Created By : Paschalis Serty C. W.
Perpisahan 07/08
Bagaikan mentari di hari petang
Aku mulai teringat pada masa lalu
Yang penuh dengan pengorbanan
Teringat tentang segalanya
Masa-masa perjuangan dulu
Melawan para penjajah
Darah berceceran di mana-mana
Peperangan terjadi di mana-mana
Mayat-mayat tergeletak di sana-sini
Sungguh mengerikan mengingatnya
Ingin rasanya membanggakan diri
Tapi apa daya waktu tak sampai
Created By : Paschalis Serty C. W.
Lomba Baca Puisi 06/07
Bagaimana perasaan seorang anak
Kalau selalu jauh dari orang tua tercinta?
Apalagi bila sedang sakit parah?
Batin tersiksa, muka cemberut akan datang
Created By : Paschalis Serty C. W.
Tak terasa bertahun-tahun sudah aku meniti hidup ini
Tak kusangka ada banyak kisah yang kutuang dalam buku kehidupan
Manis dan pahitnya hidup sudah kurasakan
Tapi itu tak cukup bagiku
Kar’na aku masih ingin menapaki dunia ini dengan sejuta kasih
Aku boleh bertambah tua,
Tapi semangatku harus semakin membara
Created by : Paschalis Serty C. W.
Awalnya langit sangat terang, mendadak mendung menyelimuti bumi tempatku berpijak. Kupercepat langkah. Angin menderu kencang. Ada apa ini? Hiruk pikuk terasa di sepanjang jalan. Semua pengemudi kendaraan menambah kecepatan, membuat situasi lalu lintas semakin semrawut. Tujuanku satu, halte kampus.
Sesampainya di halte, saat itu pula langit mencurahkan air ke bumi. Hujan yang sangat deras dan angin yang bertiup kencang membuat bangku tempat duduk di halte basah oleh curahan air yang terbawa angin. Aku merapatkan jaketku.
Halte tak begitu ramai. Para penumpang beberapa detik lalu telah masuk ke angkutan kota dan meninggalkan tempat itu. Para calon penumpang banyak yang terjebak dan memilih berteduh di kantin-kantin pinggir jalan di seberang halte. Mereka kalah cepat dengan hujan.
Hanya ada beberapa orang yang berdiri merapat ke tengah, menghindari basah. Aku melakukan hal yang sama dengan mereka, merapat pada tiang halte, mencari tepat berdiri untuk menghindari hujan lebat itu. Aku menggeser kakiku sedikit demi sedikit. Tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Spontan aku menoleh. Sikuku beradu dengan siku seorang gadis. Sesaat mata kami bertemu pandang, lalu masing-masing tersenyum.
”Maaf!”, ujarku pendek.
”Iya, saya maafkan.”, jawabnya ringan. Aku bengong mendengar jawabnya, memandang heran. Caranya menyambut permintaan maafku sungguh unik. Orang biasanya akan berkata ’tak apa’ atau ’lain kali lihat-lihat ya!’ atau ’hati-hati ya’, tapi ini? Aku masih memandanginya.
”Kenapa? Kan sudah aku maafkan.”. Kalimatnya kembali terdengar. Aku mengangguk, ada malu terbesit di hatiku.
”Kamu sekolah di mana?”, aku mencoba mencairkan kebisuan. Tapi dia tak menjawab, malah memperlihatkan lengan kemejanya.
”Di negara maju, orang lebih senang membaca daripada bertanya.”. Busyet dah, dalem banget nih bocah. Tertulis di lengan kemejanya, SMK Persada. lho! Itukan STM. Kuperhatikan dirinya. Ya ampun, bener! Dia pakai celana panjang abu-abu.
”Kelas berapa?”, aku kembali bertanya. Kali ini untuk menghilangkan kesan bodoh atau mungkin justru aku terlihat semakin bodoh.
”Kelas dua,”, jawabnya selalu pendek dan seperlunya, tapi tetap enak didengar. Untuk itulah aku kembali berani bertanya,
”Oh iya, nama kamu siapa?”.
”Sofia,”. Aku mengangguk. Aku tak perlu menunggunya bertanya balik siapa namaku.
”Aku Didi,”, kalimatku kuusahakan sependek mungkin sambil mengulurkan tangan.
”Rahdian Syahputra kan?”, tambahnya.
Aku terpaku beberapa saat. Belum ada kata yang mampu aku keluarkan dari rongga suara, kalimatnya kembali meluncur, ”Seorang aktivis mahasiswa, mana mungkin orang tidak kenal.”. Ekspresiku adalah mengerutkan kening. Ada rasa selain heran yang menyelimuti otakku, GR!
”Kau mengenalku? Kita pernah bertemu?”, aku mengingat-ingat, kegiatan apa yang melibatkan anak SMK Persada.
”Jangankan aku, coba tanyakan pada mereka, pasti bisa menjawab nama abang dan jabatan abang di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum.”. Aku terpana. Begitukah? Tapi aku tak ingin mencoba bertanya.
”Tak percaya? Dengan penampilan seperti ini, mata mereka akan memandang abang sebagai aktivis.”, kalimatnya begitu diplomatis. Aku terpukau. Seorang gadis kelas dua STM yang sama sekali belum pernah bertemu, bisa bicara begitu.
”Ada kegiatan apa Bang, di Kampus?”. Aku masih linglung dengan pertanyaan barusan. Kegiatan? Kok tahu?
”Kok tahu?”, kali ini aku mengeluarkan pertanyaan itu. Sesaat Sofia tampak bingung, lalu tersenyum dan jari telunjuknya mengarah pada dada samping kananku. Aku tercekat. Betapa bodohnya aku!
Aku masih menggunakan almamater di halte yang dingin ini. Aku lupa, kalau di almamaterku terdapat nama plus jabatanku sebagai seorang Wakil Gubernur Mahasiswa Fakultas Hukum. Tak berlebihan bila dia serba tepat menebak identitasku. Hm, aku saja yang kegeeran. Gadis itu tersenyum.
”Kemarin kulihat kau menikmati situasi di halte orange.”, Tomi yang berjalan di sebelahku bertanya tanpa pengantar.
”Apa?”, aku tak menghentikan langkah untuk menanggapi kalimatnya.
”Iya, aku melihat kau bersama siswa STM. Wah! Hebat juga kau. Rupanya sudah berani keluar kampus. Tapi yang kau gaet gadis STM. Ha ha ha.... Manis juga!”. Aku tak komentar. Kami tetap berjalan beriringan. Tapi, tahukah dia? Sungguh hatiku bergolak hebat, terlebih dengan kalimatnya kemudian,
”Di acara pembubaran panitia kabarnya ketua panitia membuat program jalan-jalan ke pantai. Coba kau buktikan, seberapa jauh kedekatanmu dengan gadis itu!”, ia menepuk-nepuk bahuku.
”Gadis itu? Yang mana?”, aku tak mengerti.
”Itu, yang beberapa kali kau temui di halte. Tak elit kencan di halte kampus begitu, ingat reputasimu! Sesekali kau ajak kencan di kafe, atau.... Tak perlu menunggu acara pembubaran panitia! Masih dua minggu lagi. Bagaimana kalau kau datang di acara ulang tahun Elisa? Kau harus datang dengannya. Biasanya gadis seusianya palang senang datang di acara pesta ABG. Kebetulan adikku mengundangmu, bagaimana? Harus setuju! Kau harus berani menerima tantanganku!”. Tomi sungguh keterlaluan, dia sama sekali tak memberi jeda untukku bicara. Kalimatnya nyerocos mirip perempuan cerewet kebanyakan. Sialnya, tantangannya tak dapat aku tawar-menawar lagi. Kini dia berdiri dengan sok gentle.
”Ayo Boy! Aku yakin kau sedang pedekate atau sudah lewat masa itu. Jangan-jangan gadis itu sudah resmi jadi pacarmu atau kalian sudah komitmen untuk...?”, dia menghentikan kalimatnya. ”Menikah! Setelah kau lulus kuliah dan gadis itu lulus STM? Ha ha ha...!”. Aku hampir saja marah kalau dia tak menghentikan tawanya.
”Namanya Sofia!”. Aku tak suka dia memanggil nama indah itu dengan sebutan ’gadis itu’ atau ’ gadis STM’.
”Sofia? Hah? Sepertinya bertolak belakang dengan kepribadiannya? Aku melihatnya sebagai seorang gadis yang jauh dari kesan feminin dan tidak biasa berdandan. Beda sekali dengan pacar-pacarmu yang dulu?”. Rahangku mengeras. Tomi semakin keterlaluan.
” Tak bisa berdandan? Pacar-pacarku yang dulu?”, aku mengulangi pertanyaanya dengan nada protes.
”Ya! Bukankah begitu? Atau justru karena dia sangat berbeda dari yang sudah-sudah kau begitu tertarik padanya? Tapi kau sungguh keterlaluan! Kau hanya berani kencan di halte orange. Ingat wibawamu itu!”. aku terhenyak mendengar kalimatnya barusan. Kencan di halte orange? Sejak pertemuan pertama saat hujan deras itu kami memang sering dipertemukan oleh waktu dan hubungan ini semakin dekat. Tapi, sekali lagi dipertemukan oleh waktu di satu tempat.
Tomi sungguh semakin keterlaluan. Tanpa konfirmasi padaku dia menyebarkan gosip murahan. Aku punya pacar anak belasan tahun. Siswi kelas dua SMK Persada. Terang saj mereka mengatakan aku turun pasaran dan jadi korban julukan ’Tetanggaku Idolaku’. SMK Persada memang berada satu komplek dengan kampusku. Yang lebih mengesalkan, dia mendaulat teman-temanku di kampus untuk memaksaku membawa Sofia ke acara ulang tahun Elisa tiga hari lagi.
”Aku tak akan datang di acara ulang tahun adikmu yang masih ABG itu!”, tukasku menolak undangannya.
”Kau keterlaluan! Adikku berbaik hati mengundang teman-temanku. Dia menganggap kamu sebagai abang sendiri. Tapi, kau malah tak menghargainya!”. Wajar bila Tomi marah.
”Bukan begitu. Tolong mengertilah. Aku tak suka acara begitu.”, aku merendahkan suara, memohon.
Kau tak suka, tapi Sofia? Dia harus sering bersentuhan dengan dunia cewek pada umumnya.”, ujarnya sambil meninjuku.
”Sialan kau! Apa maksudnya dunia cewek pada umumnya?”, aku protes.
”Tenang Boy, jangan tersinggung. Ajaklah ia! Perkenalkan ia pada dunia feminin. Jangan hanya berkutat pada lab di STM Persada dan nongkrong beberapa menit di halte orange.”. Dia tersenyum.
”Sialan! Berapa kali kau melihatku duduk bersamanya di halte? Kau memata-mataiku?”. Tomi terkekeh. ”Tapi kau salah! Aku dan dia tidak pacaran!”. Kali ini mata sahabatku terbelalak. ”Setidaknya sampai saat ini aku belum mengungkapkan.”, ucapku dalam hati.
Tomi mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. ”Ah, kau memang tak berubah. Mana pernah kau mengaku pacar di depanku. Tak takut kalau dia jatuh di tanganku karena kau tak mengakuinya sebagai pacar?”. Aku menggeleng, gusar.
”Kali ini aku tak bohong. Kami belum jadian!”, aku mengakui dengan jujur. Tomi tampak tercengang.
”Nah, belum kan? Makanya, nanti di suasana romantis pesta ulang tahun Elisa kau bisa mengungkapkan kalimat-kalimat gombalmu itu. Pokoknya kau harus datang bersamanya. Aku sudah membuat pengumuman pada yang lain. Mereka penasaran dengan Sofia, gadis STM. Ha ha ha....”. Aku tak sempat melayangkan kepalanku. Tomi keburu berlari meninggalkanku.
”Pesata ulang tahun?”. Mata Sofia terbelalak lalu tertawa kecil. Aku sudah menduganya. Mungkin dia akan menertawakanku, lalu menolak ajakanku. ”Kenapa mengajakku, Bang?”. Kalimat keduanya tak dapat kujawab. Aku bingung.
”Ya, karena mereka yang memintanya.”, aku begitu polos. Gadis di depanku mengerutkan kening.
”Mengapa mereka yang meminta? Mereka siapa? Memang Abang cerita apa?”, rentetan pertanyaannya memojokkanku.
”Tidak cerita apa-apa. Tapi mereka tahu kita dekat.”, aku mengatur napas yang memburu.
”Dekat? Tapi mereka tidak berpikir yang macam-macam, kan?”, ia memastikan. Aku tersentak tak mengerti.
”Berpikir macam-macam bagaimana?”. Sofia tak segera menjawab. Nampaknya ia sedang mencari kata-kata yang pas. Matanya lekat menatapku. Pandangannya tenang. Aku sangat tegang.
”Aku sedikit tahu maksud mereka. Mungkin mereka menebak kita ada hubungan khusus. Kita sedang PDKT atau malah kita sudah...jalan, mungkin? Abang tak diberi kesempatan untuk menjelaskannya.”. Aku gugup saat mencoba menjelaskannya.
”Jadi abang belum mengerti maksud mereka? Bisa jadi mereka menantang bertaruh. Mungkin mereka menyangka kita, ya seperti saya ungkapkan tadi itu. Padahal Abang sudah saya anggap seperti abang saya sendiri.”. Aku tercekat. Napasku tersengal.
”Jadi,”, kalimatku menggantung. Banyak makna dari satu kata yang kuucap itu.
”Ya, saya tak keberatan menemani Abang di pesta ulang tahun itu. Kalau Elisa itu adik Tomi, maka Sofia adiknya Didi. Bagaimana?”. Aku berusaha tersenyum dan berhasil. Meski hatiku hancur.
”Oke, aku jemput besok.”.Sofia terdiam sejenak, lalu mengangguk.
”Bisa! Sekalian Abang harus minta izin pada orang tua saya dan menekankan bahwa kita seperti saudara.”. Aku menelan ludah dan mengangguk. Kata saudara itu mendengung-dengung di telingaku.
Aku terpaku di depan pintu ketika gadis itu muncul membukanya dan mempersilakan aku masuk. Baru pertama kali aku melihatnya memakai rok, rambutnya ditata dengan rapi, dan diberi jepit yang cantik. Baru pertama kali aku melihatnya memoles wajahnya dengan bedak tipis. Baru pertama kali aku....
”O ya, ini mama.”. Dia membuyarkan lamunanku. Segera aku memperkenalkan diri lalu meminta izin untuk mengajak putrinya pergi.
”Fi, kamu sudah punya pacar ya?”. Dia terbelalak, lalu tertawa keras sampai badannya berguncang-guncang.
”Pacar? Buat apa?”. Aku tercengang mendengar jawabannya. Aku menatapnya heran. Dia tersenyum. ”Kalau saya enggak punya pacar bukan berarti saya suka pada perempuan! Mentang-mentang saya sekolah di STM. Saya normal kok! Cuma, saya merasa sudah mendapat curahan kasih sayang dari teman-teman dan keluarga. Pacaran itu harus siap sakit hati karena putus atau patah hati. Trus siap kehilangan banyak teman ketika pacar kita nuntut jalan ke sini, temenin ke situ. Uh, ribet!”. Aku mengangguk-angguk sambil ketawa.
Hm..., bener juga! Kok aku baru merasa apa yang dikatakan Sofia bener. Aku sendiri pernah mengalaminya. Tapi anehnya aku belum kapok juga. Bahkan saat ini aku sedang merasakan kembali tanda-tanda cinta itu. Cinta dengan gadis yang akhir-akhir ini dekat denganku. Pertama kali aku bertemu dengannya di halte orange. Dia telah membuat episode tersendiri dalam kisah hidupku.
Pascha
Judul : Air Mata Cinta
Pengarang : Achmad Mufid A.R.
Penerbit : Ar-Ruzz media Yogyakarta
Tebal : 184 halaman
Cetakan : I Juni 2004
Secara dominan, banyak novel remaja yang menceritakan mengenai kisah percintaan antara sepasang kekasih. Hubungan pria dan wanita memang sangat menarik untuk dibahas. Terlebih jika kisah percintaan tersebut memiliki konflik yang saling berhubungan satu sama lain. Maksudnya, dari satu konflik menuju ke konflik lain masih memiliki benang merah. Akan tetapi, sangat jarang ada novel remaja yang menyinggung percintaan tetapi juga menyinggung mengenai Tuhan.
Seperti pada novel ‘Air Mata Cinta’ ini. Novel ini menceritakan tentang kisah percintaan seorang pria yang bernama Nauval Rafiq. Nauval adalah seorang pemuda yang sangat haus dan merindukan cinta. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seorang gadis yang berhasil merebut hatinya. Gadis itu bernama Maya Elisa. Nauval memasrahkan sepenuhnya hidup dan perasaannya kepada Tuhan. Termasuk mengenai perasaannya terhadap Elisa. Selain sering berbincang-bincang dengan Tuhan, Nauval juga sering menceritakan setiap apa yang ia alami kepada ibunya, Rabiah Salim. Nauval terjebak di dalam perasaan cintanya.
Tiba-tiba masalah pun datang. Elisa harus pergi ke suatu tempat yang jauh dan berpisah dari Nauval. Elisa dan Nauval sering berkirim-kiriman surat. Salah satu dari surat itu berisi sajak-sajak cinta yang sangat indah. Di dalam sajak itu Elisa berusaha menjelaskan kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Apabila mereka berjodoh, maka dipisah seperti apapun juga mereka pasti akan bersama. Biarlah Tuhan yang akan menunjukkan cinta-Nya. Nauval pun membalasnya dengan sajak-sajak yang berisi ungkapan hati dan kegundahannya. Nauval menjelaskan kepada Elisa bahwa di setiap nafas dan langkahnya nama dan wajah Elisa akan selalu ada. Dia percaya bahwa Tuhan akan memberikannya jalan yang terbaik. Tapi selamanya dia akan merindukan Elisa. Dan sejak saat itu mereka sudah tidak pernah berkiriman surat lagi.
Namun, pada suatu hari mereka dipertemukan kembali di sebuah makam. Elisa datang dengan membawa sebuah kenyataan yang menyedihkan. Ibunya menikah lagi dengan Syamis Al-Syamiri. Elisa sering kali memaki ayah tirinya itu. Dia sangat membencinya karena dia merasa bahwa Syamis telah merebut cinta ibu dari ayahnya. Elisa pun lari dari rumah. Ibunya menjadi sangat cemas dan mencarinya. Muna Syarif menjelaskan kepada Elisa bahwa tidak ada yang dapat memaksakan cinta. Hanya Tuhalah yang tahu akan teka-teki dan lika-likunya cinta.
Di dalam novel ini sangat terlihat ketergantungan para tokohnya terhadap Tuhan. Dalam setiap apa yang mereka lakukan dan katakan pasti akan mereka ceritakan kepada-Nya. Novel ini mengingatkan kita bahwa di dalam hidup ini kita harus selalu ingat dan bergantung kepada Sang Pencipta. Kisahnya pun tidak terlalu monoton seperti halnya kisah percintaan lainnya yang selalu mengulang-ulang kisah yang sama.
Lika-liku dan kerumitan kisah membuat peresensi menjadi sulit untuk memahami isi dan maksud dari cerita. Penggunaan bahasanya pun sangat tinggi sehingga peresensi sulit untuk memahami maksudnya. Di dalam cerita ini, banyak menggunakan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan. Setiap kalimatnya memiliki makna sendiri-sendiri seperti ‘Persahabatan itu kebersamaan dengan makhluk Tuhan.’. Makna dari kalimat itu sangatlah dalam. Di dalam cerita ini pun terdapat sajak-sajak dan puisi-puisi yang indah.
Buku ini tidak cocok untuk dibaca oleh para remaja. Walaupun berisikan kisah cinta, akan tetapi bahasanya sangat tinggi, sehingga menyebabkan para remaja akan merasa bosan karena merasa kesulitan untuk memahami. Buku ini akan lebih cocok jika dibaca oleh para sastrawan muda karena akan menambah perbendaharaan kata dalam mereka berkarya. Terlebih di dalam buku ini terdapat sajak dan puisi.
Pascha